Cerpen

April 3rd, 2006 by empirisia

(Kawan-kawan, aku ingin mendokumentasikan beberapa cerpen yang telah kucipta atau yang baru kucipta. Itu semua sebagai contoh perkembangan “karirku” di dalam berkarya. Aku senang memperoleh respon dari kawan-kawan demi kebaikanku. Inilah antara lain yang tersaji) :

BAYANG-BAYANG

Rahmat Ali

S

emula aku naik oplet dari ujung gang. Dilanjutkan bis. Kemudian kereta Jabotabek. Setelah berderak-derak beberapa lama aku jadi tidak sadar apa-apa. Aku jadi tidak tahu waktu. Kayaknya tidak ada batas antara waktu kini atau yang akan datang. Tahu-tahu kurasakan sudah berada di kendaraan bulat berkaca bening. Betapa besarnya di dalam. Semua penumpang termuat. Anehnya aku. melihat istriku di situ. Bersama empat anakku. Ibuku hadir juga. Dia tampak rukun dengan kedua mertuaku. Sebelas orang iparku yang sudah berkeluarga nimbrung, seperti ikut meramaikan perjalanan.

Tidak ayal kalau kami sangat bergembira. Kami dengan seluruh penumpang seperti sedang mengelilingi pulau kecil yang belum pernah disentuh. Banyak pohonan. Tinggi, rindang, subur, dan serba hijau. Di tengah rerumputan yang halus menghampar taman. Dengan sekelompok mawar, gladiol, gerbra, anggrek berbagai jenis. Lalu di cabang-cabang burung balam, nuri, parkit, jalak, dan cenderawasih berceracah, bergantian memperdengarkan siul-siulannya yang merdu. Burung merak memekarkan ekornya yang lebar di belakang. Warna-warna yang kuat tersebut menjadi amat kontras dengan panorama latar belakangnya yang hijau. Masing-masing penumpang merasakan kesejukan, lebih-lebih ketika angin semilir meniup dari lembah di bawah sana. Sungguh perjalanan yang merupakan hadiah. Seketika ter­obat kebosanan-kebosanan rutin. Udara kotor dari dalam dada terpompa keluar. Terganti oleh yang segar dan penuh aroma.

Sayang beberapa detik kemudian terasa gejalanya mau berubah. Mawar dan bunga-bunga yang indah itu tampak gemulai ambles ke bumi. Tanah pasir seperti samudra melanda seluruhnya. Pohon-pohonan hijau terkubur. Unggas­-unggas dengan nyanyiannya yang surgawi menjadi parau mendadak. Kesuburan dan kemewahan bukan hanya pudar tetapi juga sirna. Awan biru jadi kelabu. Di atas pasir yang bergerak itu berjatuhan burung-burung. Bulu-bulunya rontok. Gundul. Terkapar. Semua merubung. Menggerogoti daging dan kulitnya. Seketika habis tidak bersisa. Hanya tinggal tulang-tulangnya.

Atas kejadian kilat tersebut kami dan para penumpang lainnya pada membelalakkan mata. Tidak percaya tetapi nyata. Akhirnya kami menatap ke depan dengan tegang. Kendaraan tumpangan kami yang bulat tetapi tanpa roda itu seperti tetap bisa menggelinding dengan perkasa. Mula-mula hanya istriku yang mual. Lalu pusing. Kemudian anak-anakku mendapat kesulitan yang sama. Demikianpun kedua mertua­ku, ibuku, dan ipar-iparku serta keluarga mereka. Akhirnya aku sendiri. Mualnya bukan kepalang: Demikian pusing kepala sehingga aku merasakan seperti digodam batu gunung Urat-urat di kepalaku terasa sakit yang senyeri-nyerinya. Laju kendaraan tidak terkendali lagi. Semula memang tidak begitu menakutkan, karena masih di atas jalanan yang rata. Tetapi setelah itu seperti dihempas-hempaskan ke jurang. Kendaraan menunjam membolak-balik, tegak, menunjam lagi. Tidak ada yang tidak muntah-muntah. Yang termuntahkan adalah darah dan nanah. Terdengar teriak yang melolong-lolong. Istriku memanggil-manggil namaku. Anak-anakku minta tolong padaku.

"Pegangi tanganku, Paak!" Teriak mereka berulang-ulang. Istriku ikut-ikut menjerit, lebih iba, kepadaku. Anak-anak dan istriku berjuang untuk memegang tanganku kuat-kuat. Menggenggami jari jariku lebih kuat.

"Tolooong…," lengking penumpang lainnya kepada anggo­ta keluarganya yang paling dekat.

Teriakan hanya gema. Tidak punya pengaruh kepada yang sedang membutuhkan. Sama juga dengan tangan istri dan anak-anakku. Mereka terus menggenggam kuat-kuat. Tetapi kekuatan tersembunyi seperti begitu sengit memisahkan. Tanganku lepas dari tangan mereka. Secara sayup-sayup aku masih bisa mendengar teriakan mereka yang menyebut diriku sebagai bapak anak-anakku. Juga sebagai suami tercinta dari Mimi, istriku. Kami melayang-layang. Makin jauh.. Toh masing-masing dari kami masih terus menggapai-gapaikan tangan atau kaki. Sekenanya. Asal bisa mempengaruhi gerak. Agar bisa dekat kembali. Sayang tidak bisa. Sukar. Sisa-sisa kekuatan makin lumpuh. Luruh.

Mengapa pisah. Mengapa tidak sama-sama buat selama­nya? Bukankah kami anakmu, Pak? Aku Mimi, Mas, istrimu. Tangkap aku. Sudah demikian dalam aku terjatuh. Tidak sampai-sampai juga ke dasar. Sampai kapan tubuh istrimu harus hancur, Mas?

Pak, Bapak! Kejar dan tangkap tanganku. Ngeri, Pak. Ngeri sekali.

Anehnya lidahku kelu. Hanya bibirku yang komat-kamit. Aku dengar seinua teriakan panik mereka. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sedih sekali. Diriku seperti tertambat pada tiang besar. Aku mendengar kedua mertuaku bersesam­bat tidak beda pula dengan yang sudah-sudah. Bukankah kau menantuku, Li? Kami kan iparmu, Li, mengapa diam saja? Mengapa begitu tega tidak mengulurkan tangan, Li. Kamu mampu memanjangkan tanganmu sampai ke bawah jurang. Percayalah kepada kemampuanmu. Kok diam?

Bagaimana tidak diam kalau kedua tanganku tertambat pada tiang agung. Aku sudah digariskan untuk hancur bersama-sama kendaraan yang bulat tanpa roda ini. Tidak­kah kaulihat muntah darahku bersama nanah-nanah dan koreng telah berubah jadi serangga gunung kapur. Tenggorok­anku sudah digerogoti kepiting. Binatang bersupit runcing itu mencabut lidahku. Selama di kantor aku banyak berbo­hong. Aku tega menindas para pegawaiku. Kupotongi honor mereka. Kuperas tenaga mereka. Kupersulit kenaikan jenjang mereka. Lalu di hadapan atasan aku menonjolkan diri, bahwa seluruhnya adalah karyaku. Bahwa segalanya adalah ideku. Maka aku berhak dapat lebih banyak, lebih enak, lebih empuk. Lalu di rumah aku menutup pintu. Tidak kupeduli­kan para tetangga, mereka datang minta sumbangan. Dan segera kucaci maki. Aku jadi kaya sendiri paling mentereng sendiri.

"Pak, Bapak!" Kudengar lamat-lamat suara anakku yang terkecil. "Benarkah Bapak telah mengakui semuanya? Patutkah perbuatan Bapak selama ini dianggap merugikan orang?"

Kata-kata selanjutnya tidak kudengar. Walaupun demikian sudah cukup membuatku tersenyum dan meringis. Ya, masih banyak lagi yang lebih berat. Manipulasi pun punya tingkatan-tingkatannya, toh bapakmu sudah di dalam arus yang jelek. Yang merugikan orang lain. Ya, biarpun tidak termasuk kategori pernah memperkosa atau membunuh orang. Tidak memberontak atau merampok. Tidak kudeta atau menjual negara. Jelaslah bapakmu bukan orang yang polos. Paling sedikit Bapak sudah kemasukan pengaruh­pengaruh negatifsebagai abdi negara, sebagai pegawai negeri.

Sampai di mana mereka tadi melayang-layang? Aku mengawasi dari atas kendaraanku yang aneh berlapis kaca seluruhnya ini. Tahu-tahu mereka melintas lagi di dekatku. Aku melihat perubahan dahsyat. Seperti juga pada tubuhku. Secara berangsur tanganku memucat. Urat-uratnya yang biru kentara sekali mencuat. Lama-lama makin putih. Darah berhenti bergerak. Lalu mengering. Wajah cekung. Mata loncat. Tinggal kelopak. Isi tenggorokanku juga sudah hancur oleh kepiting yang rakus. Oleh sengatan racunnya rambutku yang hitam berubah jadi coklat kemerah-merahan, lalu abu-abu. Begitu putih maka rambut anak-anakku juga ikut berwarna sama. Mereka ubanan semua. Mengapa diikut­ikutkan berubah jadi ubanan? Apakah artinya rriereka juga harus sama-sama dibebani siksa?

Mata anak-anak, juga istriku, sama-sama copot dari kelopaknya. Mata kedua mertuaku, mata ibuku, mata ipar-iparku serta seluruh keluarga mereka juga. Puluhan biji mata An terbang melesat ke satu jerangkong jerangkongan tanpa busana. Mereka membaur. Tidak bisa dibedakan lagi satu sama lain. Aku tidak bisa mengenali mana yang anak-anak mana pula yang istriku. Aku sepertinya man memelototkan mataku lagi. Aku memanggili mereka. Tidak dengar. Tenggorokanku sudah rusak digerogoti kepiting.

Tidak menghasilkan suara lagi. Gila! Tiba-tiba telingaku bekerja Iebih baik. Suara yang lantang itu tangkap dan aku tahu pula maknanya.

"Tidak ada lagi nama," menggema berulang. Apa maksudnya? Aku pasang lagi telingaku selagi bisa menangkap. "Kalian adalah kalian." Lalu menyusul lagi yang lain, "Kamu adalah kamu." "Lahir sendiri-sendiri, pulang juga sendiri-sendiri." "Aku adalah aku." "Tidak ada suami." "Tidak ada istri." "Tidak mertua tidak ipar." "Tidak ibu." "Sendiri-sendiri!" "Ya, kamu adalah kamu."

Begitu selesai pernyataan-pernyataan aneh ini mendadak tulang-tulang tanganku lepas dari badan. Demikian juga tulang-tulang kakiku lepas dari pinggul. Tengkorak kepalaku lepas dari leher. Dan leher sendiri copot dari persendiannya di antara dua bahu. Semuanya menyatu sesuai bagian masing-masing. Kepala. Paha. Tumit. Tangan. Dan banyak lagi bagian tubuh yang lain.

Aku tidak habis pikir. Siapa yang mengendalikan pemutusan-pemutusan ini? Tetapi biarpun bagian jerang­kongku sudah terpisah-pisah anehnya tetap bisa merasa dan berpikir. Dan kendaraan bulat melaju itu tetap berkekuatan tinggi. Tengkorak dan bagian-bagian tubuhku yang lain dilanggar dan dilumatkan. Aku jadi debu. Aku jadi angin. Aku di Kutub Selatan. Di Kutub Utara kemudian ke pusar bumi. Masih juga kendaraan bulat itu mengejarku. Aku sudah terpepet. Luka paling nyeri dan senyeri-nyerinya sudah kurasakan. Toh aku mau diremukkan lagi. Aku sudah menyerah. Rela dijadikan apa saja. Lebih noda dari debu juga tidak bisa mengelak. Pasrah.

Aku sudah sepipih-pipihnya. Aku sudah sehancur­hancurnya. Sudah dipojokkan ke ujung bumi yang sesepi­-sepinya. Anehnya tiba-tiba tulang-belulang yang terpisah pada muncul entah - dari mana. Menggabung kembali. Berbentuk jerangkong. Lalu menyatu pula claging dan urat-urat nadi dan darah. Datang juga biji mata. Sempurnalah tubuhku. Dengan busana. Demikiaripun tubuh istri dan anak-anakku. Mereka menggapai-gapai. Secepat kilat tangan mereka kutangkap. Kami berpegangan tangan erat-erat.

"Pak! Pak!" teriak anak-anakku kegirangan. Mereka merangkulku. Aku rangkul mereka. Demikian menderitanya mereka selama dipisahkan. Itu tampak pada saat mereka menyatu kembali dalam pelukanku. Mereka ogah dipisahkan lagi jauh jauh. Sama halnya istriku. Di sini rupanya derita yang sudah diresapi dan di sini pula nilai suatu reuni. Anak-anak ceria. Senyum. Mata berbinar. Pipi kemerah­merahan, sehat!

Kedua mertuaku datang tak lama kemudian. Begitu hebat kerinduan telah terobati. Aku dan mereka bersalaman erat-erat. Tangan mereka kucium penuh hormat. Ibu datang. Aku bersimpuh penuh hormat. Ipar-iparku datang. Kami tertawa-tawa, makan dan minum bersama di satu meja.

Horison No. 3-4, Th. XVII, Maret-April 1982